Selasa, 16 Juli 2013

(kadang) Lebih Baik Jauh.


Selamat malam para pembaca blog saya ini atau yang sering saya sebut 'fans'. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa saya jarang ngeposting lagi, itu mungkin karena saya baru abis liburan dan pulang ke rumah. Tetapi, saat ini saya sudah gak liburan lagi. So, mungkin beberapa hari ke depan ini saya akan rajin ngeposting seperti biasa.
Well, saat ini di malam yang lumayan bersahabat ini saya akan sedikit melukis rangkaian kalimat di kertas tak berwujud ini. Ini bukanlah tentang curhatan, atau bahkan mengumbar kejelekan tetapi saya hanya ingin sedikit bercerita tentang sekelumit kisah hidup saya ini.
Kisah seperti ini memang sangat sering saya alami, tetapi kali ini saya hanya akan menceritakan yang terakhir kalinya saya alami sampai saat ini.
Ketika itu, ayam tetangga masih saling bertegur sapa dengan yang lainnya, matahari masih terlihat hanya ujung kepalanya saja dan juga embun masih mengalir dari dedaunan, selintas jika kalian membaca kalimat seperti itu pasti kalian mengira saya akan menceritakan kisah yang memang suasananya seperti itu, tapi bukan begitu. Ditengah kedamaian pagi hari yang masih prematur itu saya terbangun karena mendengar suara yang tak enak di dengar di tengah keramaian ayam yang sedang berkokok, dengan mata yang masih sangat berat saya buka, telinga saya mencoba mengamati siapa orang yang sedang berbicara tersebut. Ya, akhirnya saya berhasil mengetahui siapa yang berbicara tersebut, dia adalah mama saya sendiri. Setelah saya mengamati lebih lama dengan badan yang masih ditutupi selimut dan juga telinga yang ditutupi oleh guling, ternyata mama sedang beradu mulut atau cekcok dengan ya tidak lain dan tidak bukan, dengan papa.
Memang, kejadian seperti ini bukan hanya sekali ini terjadi tapi sering terjadi. Saya kaget, apa yang sebenarnya sedang terjadi, saya pun terus berusaha mengamatinya dengan telinga masih tetap ditutupi guling, karena memang saya tidak mau mendengar percekcokan seperti ya mungkin bisa dibilang sudah bosan. Kala itu saya memang baru satu malam berada di rumah sementara papa malamnya baru pulang dari semarang. Mungkin kejadian tersebut tepatnya percekcokan tersebut berlangsung sekitar satu jam. Dan akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa percekcokan yang terjadi tersebut dikarenakan masalah “uang”, iya uang. Mungkin menghadapi saya yang akan segera masuk sekolah kembali di awal tahun yang baru dan juga kakak saya yang sedang skripsi, adik saya masih belum sekolah karena masih kecil, memang mama sebagai seorang ibu yang mengatur keuangan harus mempersiapkan biaya yang tidak sedikit untuk menghadapi hal-hal tersebut, sementara papa mungkin karena merasa kemarin baru pulang kerja, pagi ini dia mau bersiap buat pergi memancing yang merupakan hobinya, dan itu mungkin membuat mama tidak enak dan merasa bahwa papa tidak memperhatikan masalah yang akan di hadapi tersebut dan akhirnya terjadilah percekcokan tersebut atau mungkin bisa dibilang “berantem”. Di sisi lain, saya tidak menyalahkan salah satu diantara mereka, mama memang benar, selalu memperhatikan ataupun mempersiapkan segala sesuatu denagan matang tetapi mungkin caranya seperti itu yang kurang benar. Papa juga sama, mungkin setelah lelah bekerja, dia ingin merelaksasikan sejenak dirinya hobinya itu, tetapi mungkin waktunya kurang tepat.
Di dalam kamar, saya hanya bisa diam sambil terus menekan guling ke telinga karena tak ingin mendengar kejadian itu. Tak terasa bantal yang dipake alas buat tidur tiba-tiba basah tepat dibawah mata saya, saya saat itu tidur menyamping. Saya sedih, tetapi hanya bisa diam.  Saya merasa memang mungkin saya yang ada dibalik semua ini, karena kejadian yang sering terjadi tersebut hampir semuanya berhubungan dengan “uang”, iya uang untuk biaya saya sekolah. Disaat seperti itu selalu terlintas untuk “sudalah, saya tak perlu sekolah. Saya bisa mencari uang sendiri guna membantu orang tua saya” entah mengapa perasaan tersebut selalu terlintas disaat kejadian seperti itu.
Okay, akhirnya pada besoknya saya ingin balik lagi ke kota yang saya tinggali saat ini, karena saya memang tidak betah di rumah. Penyebabnya ya seperti yang sudah kalian ketahui. Mungkin saya bisa dibilang anak yang mungkin ‘durhaka’ karena tidak betah tinggal bersama orang tua di rumah. Tapi memang tidak semata-mata tidak betah, karena saya merasa tidak betah seperti itu ada penyebabnya.
Saat ini saya sudah di kota ini kembali, saya selalu berharap bisa mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di sekeliling saya saat ini, dan juga ingin sekali mempunyai penyemangat. Atau bahkan orang tua kedua di kota ini, karena Mama dan Papa saya di rumah, tetaplah orang tua saya yang sebenarnya.

Well, mungkin sekian cerita saya malam ini. Semoga dari realita yang saya alami, kalian bisa mengambil intisari dari cerita saya tersebut. Itu adalah realita, bukanlah sebuah pengaduan dari kisah hidup yang saya alami. Terima kasih sudah bisa meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog sederhana ini dan juga membaca postingan ini. Selamat malam dan sampai jumpa di postingan berikutnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar