Selamat malam para pembaca blog saya ini atau
yang sering saya sebut 'fans'. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa saya jarang
ngeposting lagi, itu mungkin karena saya baru abis liburan dan pulang ke rumah.
Tetapi, saat ini saya sudah gak liburan lagi. So, mungkin beberapa hari ke
depan ini saya akan rajin ngeposting seperti biasa.
Well, saat ini di malam yang lumayan bersahabat
ini saya akan sedikit melukis rangkaian kalimat di kertas tak berwujud ini. Ini
bukanlah tentang curhatan, atau bahkan mengumbar kejelekan tetapi saya hanya ingin
sedikit bercerita tentang sekelumit kisah hidup saya ini.
Kisah seperti ini memang sangat sering saya
alami, tetapi kali ini saya hanya akan menceritakan yang terakhir kalinya saya
alami sampai saat ini.
Ketika itu, ayam tetangga masih saling bertegur
sapa dengan yang lainnya, matahari masih terlihat hanya ujung kepalanya saja
dan juga embun masih mengalir dari dedaunan, selintas jika kalian membaca
kalimat seperti itu pasti kalian mengira saya akan menceritakan kisah yang
memang suasananya seperti itu, tapi bukan begitu. Ditengah kedamaian pagi hari
yang masih prematur itu saya terbangun karena mendengar suara yang tak enak di
dengar di tengah keramaian ayam yang sedang berkokok, dengan mata yang masih
sangat berat saya buka, telinga saya mencoba mengamati siapa orang yang sedang
berbicara tersebut. Ya, akhirnya saya berhasil mengetahui siapa yang berbicara
tersebut, dia adalah mama saya sendiri. Setelah saya mengamati lebih lama
dengan badan yang masih ditutupi selimut dan juga telinga yang ditutupi oleh
guling, ternyata mama sedang beradu mulut atau cekcok dengan ya tidak lain dan
tidak bukan, dengan papa.
Memang, kejadian seperti ini bukan hanya sekali
ini terjadi tapi sering terjadi. Saya kaget, apa yang sebenarnya sedang
terjadi, saya pun terus berusaha mengamatinya dengan telinga masih tetap
ditutupi guling, karena memang saya tidak mau mendengar percekcokan seperti ya
mungkin bisa dibilang sudah bosan. Kala itu saya memang baru satu malam berada
di rumah sementara papa malamnya baru pulang dari semarang. Mungkin kejadian
tersebut tepatnya percekcokan tersebut berlangsung sekitar satu jam. Dan
akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa percekcokan yang terjadi tersebut
dikarenakan masalah “uang”, iya uang. Mungkin menghadapi saya yang akan segera
masuk sekolah kembali di awal tahun yang baru dan juga kakak saya yang sedang
skripsi, adik saya masih belum sekolah karena masih kecil, memang mama sebagai
seorang ibu yang mengatur keuangan harus mempersiapkan biaya yang tidak sedikit
untuk menghadapi hal-hal tersebut, sementara papa mungkin karena merasa kemarin
baru pulang kerja, pagi ini dia mau bersiap buat pergi memancing yang merupakan
hobinya, dan itu mungkin membuat mama tidak enak dan merasa bahwa papa tidak
memperhatikan masalah yang akan di hadapi tersebut dan akhirnya terjadilah
percekcokan tersebut atau mungkin bisa dibilang “berantem”. Di sisi lain, saya
tidak menyalahkan salah satu diantara mereka, mama memang benar, selalu
memperhatikan ataupun mempersiapkan segala sesuatu denagan matang tetapi
mungkin caranya seperti itu yang kurang benar. Papa juga sama, mungkin setelah
lelah bekerja, dia ingin merelaksasikan sejenak dirinya hobinya itu, tetapi
mungkin waktunya kurang tepat.
Di dalam kamar, saya hanya bisa diam sambil terus
menekan guling ke telinga karena tak ingin mendengar kejadian itu. Tak terasa
bantal yang dipake alas buat tidur tiba-tiba basah tepat dibawah mata saya,
saya saat itu tidur menyamping. Saya sedih, tetapi hanya bisa diam. Saya merasa memang mungkin saya yang ada
dibalik semua ini, karena kejadian yang sering terjadi tersebut hampir semuanya
berhubungan dengan “uang”, iya uang untuk biaya saya sekolah. Disaat seperti
itu selalu terlintas untuk “sudalah, saya tak perlu sekolah. Saya bisa mencari
uang sendiri guna membantu orang tua saya” entah mengapa perasaan tersebut
selalu terlintas disaat kejadian seperti itu.
Okay, akhirnya pada besoknya saya ingin balik
lagi ke kota yang saya tinggali saat ini, karena saya memang tidak betah di
rumah. Penyebabnya ya seperti yang sudah kalian ketahui. Mungkin saya bisa
dibilang anak yang mungkin ‘durhaka’ karena tidak betah tinggal bersama orang
tua di rumah. Tapi memang tidak semata-mata tidak betah, karena saya merasa
tidak betah seperti itu ada penyebabnya.
Saat ini saya sudah di kota ini kembali, saya
selalu berharap bisa mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di sekeliling
saya saat ini, dan juga ingin sekali mempunyai penyemangat. Atau bahkan orang
tua kedua di kota ini, karena Mama dan Papa saya di rumah, tetaplah orang tua
saya yang sebenarnya.
Well, mungkin sekian cerita saya malam ini. Semoga
dari realita yang saya alami, kalian bisa mengambil intisari dari cerita saya
tersebut. Itu adalah realita, bukanlah sebuah pengaduan dari kisah hidup yang
saya alami. Terima kasih sudah bisa meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog
sederhana ini dan juga membaca postingan ini. Selamat malam dan sampai jumpa di
postingan berikutnya :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar